MITOS DI BALIK KATA SUKSES

MITOS DI BALIK KATA SUKSES

Jika Anda saat ini masih duduk di kelas 12 SMA, MA, SMK atau apapun itu namanya. Maka selamat, Anda hampir menuntaskan program wajib belajar 12 tahun dari pemerintah. Setelah fase ini, Anda bisa memutuskan untuk memilih jalan hidup baru, entah langsung bekerja di perusahaan bonafit, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Saya kira, baik dari perusahaan bonafit ataupun kampus-kampus di Indonesia, senang menjadikan siswa kelas 12 sebagai target untuk bisa bergabung dengan institusi mereka. Adanya kegiatan Job Fair menjadi bukti bahwa mereka memang membutuhkan tenaga yang fresh untuk mengisi kursi di perusahaannya. Kemudian maraknya Expo Universitas di berbagai sekolah menengah atas juga menjadi bukti bahwa kampus membutuhkan orang untuk meneruskan estafet pendidikan.

Berdasarkan pengalaman saya yang juga pernah mengalami kelas 12, fase-fase ini membuat dualisme baru. Pertama, kelompok yang dengan lantang memilih langsung bekerja daripada kuliah, karena bisa hidup mandiri, menghasilkan uang sendiri, dan tidak merepotkan orang tua lantaran harus menanggung beban bayar kuliah.

Kedua, kelompok yang dengan lantang memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi daripada langsung bekerja, karena dianggap bisa menaikkan taraf hidup. Dengan gelar yang didapat, para pemuja kuliah berharap bisa mendapatkan pekerjaan layak, dengan gaji yang besar.

Pilihan untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, tidak ada salahnya. Dunia sudah membuktikan, kuliah atau tidaknya seseorang bukan menjadi patokan keberhasilan. Sebut saja Susi Pudjiastuti, ia hanya memiliki ijazah SMP, meskipun sebelumnya pernah merasakan bangku menengah atas di SMAN 1 Yogyakarta sebelum dirinya diberhentikan karena aktif dalam gerakan Golput.

Namun, bisa dikatakan Susi adalah orang sukses tanpa pendidikan yang tinggi. Ia membuktikan dengan bergerak dalam bisnis bidang eksportir hasil perikanan sebelum akhirnya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja 2015-2019. Begitupun dengan orang-orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi, secara sederhana bisa dilihat dari kursi pemerintahan pada tingkat bawah sampai atas, banyak diisi oleh kalangan yang pernah menempuh pendidikan tinggi dengan gelar yang mentereng.

Saat ini, hampir semua orang percaya dengan embel-embel gelar yang didapat dari hasil kuliah, bisa menjadikan hidup lebih sejahtera. Dari mitos yang berkembang itu, akhirnya memunculkan diskriminasi dan pandangan baru bahwa dengan modal surat sakti (ijazah) bisa meringankan beban hidup. Kemudian yang tidak memiliki ijazah seolah dipandang sebagai orang bodoh, susah, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Tentu hal ini adalah kekeliruan yang harus diluruskan. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, manusia entah apapun keputusannya dalam hidup, sama-sama memiliki peluang untuk meraih kesuksesan. Fase yang terpenting dalam meraih kesuksesan itu, bukan pada posisi bekerja atau kuliah, tetapi pada seberapa giat seseorang berusaha dengan keputusan yang telah diambil.

Saya tidak sengaja berselancar di lini masa, dan membaca sebuah artikel yang memuat idiom cukup menggelitik, ‘kalau kamu tidak segoblok dan seberani Bob Sadino, jangan coba-coba melaju tanpa pendidikan’. Idiom itu, semacam cambuk untuk kita semua, bahwa betapa pentingnya upaya mengukur diri untuk menjalani kehidupan lebih baik di masa depan.

Satu pesan untuk semuanya, jangan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai tolok ukur, karena keberhasilanmu ditentukan oleh dirimu sendiri. Tulisan sederhana ini bukanlah kebenaran mutlak, ketika saya mencontohkan Susi Pudjiastuti sebagai sosok sukses tanpa pendidikan tinggi, juga para pejabat yang notabene lahir dengan segudang gelar, itu hanya contoh. Hal terpenting dari semua itu adalah, apakah kita memiliki semangat dan keberanian yang sama seperti orang-orang sukses tersebut untuk meraih cita-cita?

Memang betul, jalan hidup manusia tidak ada yang tahu, boleh jadi seseorang akan menjadi sukses dengan pekerjaannya, boleh jadi juga seseorang akan sukses dengan pendidikannya. Tetapi, semua tergantung bagaimana seseorang merepresentasikan makna sukses. Seseorang bisa berpendapat bahwa sukses itu ketika mempunyai harta banyak, rumah bagus, atau sukses adalah ketika merasa aman dan nyaman dengan pekerjaan, yang jelas setiap orang punya ukuran kesuksesannya masing-masing.

Diakhir tulisan ini, saya mengutip perkataan Chairul Tanjung dalam bukunya “Chairul Tanjung Si Anak Singkong.” Ia mengatakan bahwa “tidak ada kesuksesan yang serba instan, tetapi semuanya perlu proses, kerja keras, dan kerja cerdas.”

 

Penulis : Aditia Ardian

Editor : IKBA

Bagikan Yuk!

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan